
bisnis.com
20 Januari 2017
Oleh: Anissa Margrit
http://koran.bisnis.com/read/20170120/448/621191/eropa-selatan-prospektif
JAKARTA—Eropa bagian selatan menjadi wilayah prospektif untuk tujuan ekspor kelapa sawit dan turunannya, di luar pasar tradisional seperti India dan China.
Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) Bayu Krisnamurthi mengatakan ekspor produk sawit Indonesia ke Spanyol dan Italia selama Januari-November 2016 mencapai lebih dari 2 juta ton dengan nilai di atas US$1,2 miliar.
“Spanyol dan Italia masih prospektif,” ujar dia, Kamis (19/1).
Produk yang dikirim ke kawasan itu terutama berupa biodiesel. Lantaran angkanya cukup signifikan, Bayu menilai perlu akses bagi pengusaha Indonesia untuk menanamkan modal di dua negara tersebut untuk pengembangan biodiesel.
Spanyol dan Italia disebut masih mengalami guncangan ekonomi dan membutuhkan investasi asing. Di sisi lain, investasi dapat membantu meningkatkan kinerja ekspor Indonesia.
Eropa sebenarnya termasuk pasar terbesar ketiga dari produk sawit Indonesia, bersama China dan India. Akan tetapi, biasanya Belanda yang membukukan angka paling besar di kawasan tersebut.
Meski demikian, peningkatan ekspor ke Eropa masih menghadapi tantangan terutama terkait isu lingkungan. Bayu menyatakan selain Prancis, ada negara-negara lain yang menunjukkan indikasi memperketat masuknya produk kelapa sawit Indonesia.
Isu lainnya berhubungan dengan kesehatan, yang mana pada 2020 Eropa berencana hanya mengimpor kelapa sawit yang berkelanjutan. “Itu harus terus kita lakukan pembicaraan dan negosiasi dengan mereka kaitannya dengan apa yang dimaksud dengan sawit yang berkelanjutan itu, karena definisinya bisa berbeda antara Indonesia dengan Eropa. Itu yang sedang kami coba terus samakan,” papar dia.
Sementara itu, eksportir Indonesia juga memiliki masalah dengan importir Pakistan megenai perbedaan berat produk yang diterima di negara itu. Menurut Bayu, perbedaan terjadi karena ada perubahan berat jenis produk dalam perjalanan.
Oleh karena itu, BPDP meminta PT Sucofindo (Persero) untuk bekerja sama dengan surveyor importir Pakistan agar terjadi kesepakatan dan kesepahaman mengenai hal ini. Sucofindo juga bertindak sebagai surveyor dalam verifikasi jenis serta volume produk kelapa sawit yang dikirim dari Indonesia.
Selain Eropa bagian selatan, tahun lalu ekspor ke AS juga diklaim menggembirakan dengan jumlah sementara sebanyak 1,2 juta ton. Namun, perkembangannya di masa pemerintahan Trump masih harus dikaji kembali.
Secara keseluruhan, pada 2016 volume ekspor sawit Indonesia turun 2% menjadi 25,7 juta ton, di mana 75,6% di antaranya merupakan produk hilir. Penurunan terjadi karena sebanyak 2,5 juta kiloliter digunakan untuk biodiesel di dalam negeri. Tetapi, di sisi nilai terjadi kenaikan sebesar 8%.
Data BPDP menyebutkan terdapat 55-60 jenis produk kelapa sawit yang diekspor dan seluruhnya diverifikasi oleh Sucofindo. Untuk tahun ini, volume yang akan diekspor berkisar 26 juta-27 juta ton.
BPDP menghitung pertumbuhan ekspor sawit pada 2017 mesti tumbuh antara 8%-9% untuk menopang sasaran peningkatan kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan. Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menyampaikan target ekspor tahun ini sebesar 5,6%.
Adapun dana pungutan ekspor kelapa sawit dan turunannya yang diterima BPDP sepanjang tahun lalu mencapai Rp11,7 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp10,6 triliun digunakan untuk mendukung harga pada program B20 biodiesel.
Program itu diklaim mengurangi emisi gas rumah kaca setara dengan 4,5 juta ton CO2, mengutilisasi 45.500 barel biodiesel dalam negeri per hari, memberi nilai tambah industri sebesar Rp4,4 triliun, menciptakan kesempatan kerja bagi 385.000 orang, dan menghemat devisa hingga US$1,1 miliar.
“Salah satu yang menggembirakan juga dari operasional dana sawit ini, harga tandan buah segar (TBS) petani naik 66% dari Rp845 per kilogram pada Juni 2015 menjadi Rp1.849 per kilogram pada Desember 2016,” sebut Bayu.
KALAH SAING
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan produk kelapa sawit Indonesia memiliki potensi untuk diekspor ke sejumlah kawasan, seperti Timur Tengah.
“Sebenarnya potensinya besar dan bersaing ketat dengan minyak dari Eropa Timur. Ekspor palm oil Indonesia ke Timur Tengah kalah kompetitif dari Malaysia. Mereka umumnya impor dari Malaysia,” terang dia lewat pesan singkat kepada Bisnis.
Peluang ekspor ke negara tujuan tradisional, yaitu India, Pakistan, dan China, pun masih besar. Namun, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh pemerintah.
Untuk India misalnya, diperlukan kerja sama perdagangan. Peningkatan ekspor ke Pakistan juga membutuhkan percepatan pembahasan Preferential Trade Agreement (PTA) di antara kedua negara. PTA mencakup perjanjian di beberapa sektor, seperti hortikultura dan kelapa sawit.
Ekspor ke Negeri Panda juga disebut masih memiliki beberapa hambatan perdagangan yang harus segera diselesaikan.
Editor : Gita Arwana Cakti
Sempat Disetop, Kasus penggelapan Minyak Sawit Siap Disidangkan
Kamis, 02 Maret 2017
Tidak Dihadiri Dirut, Dewan Batalkan Hearing dengan Eampat Perusahaan Sawit
Kamis, 02 Maret 2017