
bisnis.com
19 Januari 2017
Oleh: Ana Noviani
http://koran.bisnis.com/read/20170119/441/620840/emiten-sawit-tak-agresif
JAKARTA— Memanasnya harga minyak sawit mentah (CPO), tak membuat lima emiten kebun agresif dalam mengalokasikan belanja modal. Alokasi belanja modal digunakan untuk belanja rutin.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, total capex dari lima emiten kebun sawit tercatat Rp2,65 triliun dengan rincian PT Sampoerna Agro Tbk. sebesar Rp600 miliar-Rp1 triliun, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. sebesar Rp100 miliar, PT Eagle High Plantations Tbk. sebesar Rp400 miliar, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. sebesar Rp350 miliar, dan PT Tunas Baru Lampung Tbk. sebesar Rp700 miliar-Rp800 miliar.
Head of Investor Relations Sampoerna Agro Michael Kesuma menuturkan, perseroan memiliki strategi jangka panjang. Akibatnya, alokasi belanja modal cenderung stabil dengan kisaran Rp600 miliar hingga Rp1 triliun.
"Capex biasanya kami spend sekitar Rp600 miliar-Rp1 triliun. Sekitar 70% untuk sawit, selebihnya untuk karet," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (17/1).
Menurut Michael, harga CPO yang sejak akhir tahun lalu menanjak ke level di atas 3.000 ringgit Malaysia per ton tidak serta-merta mendorong perseroan untuk memperbesar porsi belanja modal. Walaupun terjadi fluktuasi harga sawit, lanjutnya, Sampoerna Agro tetap rutin menggulirkan belanja modal dengan nominal yang cenderung stabil.
Michael menambahkan sumber utama anggaran belanja modal emiten berkode saham SGRO ini berasal dari kas internal perseroan. Selain itu, SGRO juga memiliki opsi untuk menggunakan fasilitas pinjaman bank apabila diperlukan biaya yang lebih besar.
Pada tahun ini, SGRO berencana untuk melakukan penanaman baru 4.000-6.000 hektare kebun sawit dan 3.000-4.000 ha kebun karet. Hingga akhir September 2016, SGRO mengelola 84.377 ha kebun sawit inti, 53.618 ha kebun sawit plasma, 12.781 ha kebun sagu, 12.955 ha kebun karet, dan kebun lainnya 598 ha.
Deddy Setiadi, Sekretaris Perusahaan Eagle High Platations, menuturkan kenaikan harga CPO membawa angin segar bagi perusahaan perkebunan sawit. Pada tahun ini, emiten berkode saham BWPT ini mengalokasikan belanja modal sebesar Rp400 miliar.
"Kami mau tambah pabrik kelapa sawit, tahun lalu tambah satu jadi delapan PKS. Tahun ini kami bangun PKS baru di Papua," ujarnya kepada Bisnis.
Tak hanya untuk membangun PKS, dana capex itu juga mencakup pembangunan infrastruktur dan pemulihan dampak bencana alam di sekitar kawasan perkebunan perseroan pada tahun lalu.
Menurut Deddy, PKS baru di Papua berpotensi meningkatkan kapasitas produksi CPO perseroan dari 425 ton per jam menjadi 495 ton per jam.
Sebastian Sharp, Investor Relations Eagle High Plantation, menambahkan dalam 1-2 tahun ke depan perseroan yang mayoritas sahamnya digenggam oleh Grup Rajawali ini memutuskan untuk membatasi penanaman baru. Alasannya, 90% tanaman sawit BWPT memasuki masa siap panen (prime).
Penanaman baru, lanjutnya, akan dilakukan dengan sangat selektif setelah menelaah aspek keberlanjutan sesuai prinsip internasional, seperti tingkat kandungan karbon (high carbon stock) dan tidak menanam sawit di atas lahan gambut.
"Dengan tidak melakukan penanaman baru, belanja modal turun, biaya produksi juga turun. Kami harap tahun ini bottom line bisa positif," ucapnya.
Andi Setianto, Investor Relations Bakrie Sumatera Plantations, mengatakan pada tahun ini perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp100 miliar. Pulihnya dampak el-nino dan perawatan tanaman diharapkan dapat meningkatkan produksi tandan buah segar perseroan kembali ke level yang dicapai pada 2015 yang mencapai 979.490 ton.
"Capex rutin untuk replanting, perawatan tanaman immature dan pabrik, serta infrastruktur kebun," paparnya.
Sebelumnya, Presiden Direktur Tunas Baru Lampung Sudarmo Tasmin mengatakan, ekspansi di sektor perkebunan dan penghiliran produk sawit akan terus dijalankan. Setiap tahun, lanjutnya, perseroan menargetkan penanaman baru sawit seluas 3.000-4.000 ha.
"Capex 2017 tidak terlalu besar. Capex rutin mungkin tidak sampai Rp1 triliun, sekitar Rp700 miliar-Rp800 miliar. Sekitar 70%-80% untuk sawit," kata Sudarmo.
Saat ini, TBLA memiliki areal kebun sawit seluas 45.000 ha dan baru saja memperoleh konsesi seluas 18.000 ha di Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan.
"Kami sudah punya satu PKS di Banyuasin, Sumatra Selatan. Kapasitasnya 45 ton per jam, tapi bisa kami extend hingga 90 ton per jam," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Utama Sawit Sumbermas Sarana Vallauthan Subraminam mengatakan, pada tahun ini perseroan akan menggulirkan belanja modal sebesar Rp350 miliar. Anggaran itu akan digunakan untuk membangun perumahan pegawai, dua unit pabrik kelapa sawit, dan membeli alat-alat infrastruktur. PKS tersebut direncanakan beroperasi pada akhir 2018 dan medio 2019.
"Dua PKS baru lokasinya di Kalimantan tengah dengan investasinya sekitar Rp250 miliar. Kapasitasnya 2 x 60 metrik ton TBS per jam," ungkap Vallauthan.
Dua PKS tersebut akan menambah produksi CPO Sawit Sumbermas yang tercatat mencapai 321.238 ton pada 2015 dan 118.575 ton sepanjang semester I/2016. Produksi tersebut bersumber dari operasional enam PKS perseroan yang memiliki total kapasitas produksi sebesar 375 ton TBS per jam dengan tingkat utilisasi sebesar 52%.
Isnaputra, analis Maybank Kim Eng Securities Indonesia, memproyeksi harga CPO telah membentuk rekor 3.240 ringgit Malaysia per ton pada 2016. Menurutnya, pada 2017, harga berisiko terkoreksi ke kisaran 2.950-3.000 ringgit Malaysia per ton.
Editor : Linda Teti Silitonga
Sempat Disetop, Kasus penggelapan Minyak Sawit Siap Disidangkan
Kamis, 02 Maret 2017
Tidak Dihadiri Dirut, Dewan Batalkan Hearing dengan Eampat Perusahaan Sawit
Kamis, 02 Maret 2017