Harga CPO Kian Hijau

Bisnis.com

10 Januari 2017

Oleh: Hafiyyan

http://koran.bisnis.com/read/20170110/443/618008/harga-cpo-kian-hijau

Harga CPO Kian Hijau

JAKARTA — Harga minyak kelapa sawit melanjutkan tren penguatan dan berpeluang menembus level 3.200 ringgit per ton seiring dengan proyeksi masih ketatnya pasokan akibat kendala cuaca dan pelemahan mata uang ringgit.

Pada penutupan perdagangan Bursa Malaysia, Senin (9/1), harga CPO kontrak Maret 2017 naik 37 poin atau 1,2% menuju 3.112 ringgit (US$695,03) per ton. Tahun lalu, harga menguat 21,97%.

Donny Khor, Deputy Director of Futures and Commodities RHB Investment Bank Bhd., mengatakan perkiraan berkurangnya persediaan dan produksi memberikan sentimen positif dari sisi suplai.

Adapun, permintaan terdorong oleh pelemahan ringgit, sehingga memicu investor yang menggunakan mata uang lain meningkatkan pembelian.

Survei Bloomberg yang melibatkan delapan analis dari kalangan pengusaha, trader, dan analis memperkirakan stok CPO di Malaysia pada periode Desember 2016 turun 2,4% secara bulanan (month on month/ mom) menjadi 1,62 juta ton dari November sebesar 1,66 juta ton. Rentang perkiraan berkisar mulai dari 1,46 juta ton hingga 1,7 juta ton.

Pada bulan terakhir 2016, produksi CPO juga diprediksi turun 8,9% mom menuju 1,43 juta ton dari sebelumnya 1,57 juta ton. Pelemahan produksi ini merupakan pemerosotan tertinggi sejak Januari 2016.

Namun demikian, sentimen negatif masih membayangi dari proyeksi tingkat ekspor yang melemah 4,4% menjadi 1,31 juta ton. Ini menandakan pelemahan dalam empat bulan berturut-turut, sekaligus volume terendah sejak Juni 2016.

Dengan tingkat produksi 1,43 juta ton pada Desember 2016, maka produksi CPO Malaysia sepanjang 2016 turun 13% secara tahunan (year on year/yoy) menuju 17,28 juta ton. Angka ini merupakan level terendah sejak 2010.

Donny menyebutkan, harga CPO stabil di atas level 3.000 ringgit per ton akibat cuaca kering yang dipicu El Nino mengurangi produksi di Indonesia dan Malaysia. Keduanya menyumbang 85,4% suplai CPO global pada 2015.

Kini, El Nino berangsur berganti dengan La Nina yang cenderung membawa cuaca basah. Namun, lagi-lagi kegiatan perkebunan kelapa sawit terganggu.

CURAH HUJAN

Tingginya curah hujan yang menyebabkan banjir di semenanjung Malaysia menahan laju produksi. Terhambatnya proses panen dan akomodasi dari kebun ke pabrik menjadi alasan.

Banjir di negara bagian Kelantan dan Trengganu menyebabkan 23.000 orang harus dievakuasi pada tengah pekan kemarin. Situasi dapat memburuk seiring dengan ramalan Departemen Metereologi Malaysia yang mengatakan hujan masih akan mengguyur kedua wilayah tersebut.

Donny mengatakan, ada beberapa kekhawatiran bencana banjir menyebar lebih luas ke daerah lain, sehingga harga CPO dapat semakin terkerek. Banjir juga dapat memengaruhi kualitas minyak kelapa sawit.

“Jika banjir serius dan memengaruhi area perkebunan, harga berpotensi menembus level 3.200 ringgit dan mencoba menggapai 3.300 ringgit per ton,” ujarnya, Senin (9/1).

Dalam riset lainnya, Binaartha Sekuritas menyebutkan harga komoditas seperti CPO bakal mendapatkan sentimen positif dari penguatan harga minyak. Pada 2017, rerata harga minyak WTI akan mencapai US$50 per barel dan minyak Brent senilai US$51 per barel.

Kenaikan harga CPO diperkirakan berlanjut sampai semester I/2017 akibat masih terkendalanya pasokan. Rerata harga pada pada kuartal II/2017 diprediksi senilai 2.906 ringgit per ton.

Chandran Sinnasamy, Head of Dealing LT International Futures, mengatakan harga CPO meningkat akibat dukungan pelemahan ringgit dan kekhawatiran atas banjir yang dipicu hujan lebat di Semenanjung Malaysia.

Melemahnya ringgit membuat investor yang menggunakan mata uang lain membayar lebih murah, sehingga meningkatkan prospek permintaan. Kemarin, ringgit ditutup melemah 0,1% menuju 4,47 per dolar AS.

“Hujan lebat yang berkepanjangan dapat menghambat panen dan pengangkutan buah sawit ke pabrik,” ujarnya.

Sementara itu, China sedang bersiap-siap meningkatkan pembelian CPO menjelang festival Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 28 Januari 2017. Libur panjang dalam rangka perayaan berlangsung 7 hari mulai 27 Januari 2017.

Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB), China merupakan importir CPO terbesar kedua di dunia setelah India. Pada Januari-November 2016, China mengambil 1,72 juta ton CPO dari Malaysia.        Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Bagikan

RELATED POST

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Kejutan Astra Agro

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Sempat Disetop, Kasus penggelapan Minyak Sawit Siap Disidangkan

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Tidak Dihadiri Dirut, Dewan Batalkan Hearing dengan Eampat Perusahaan Sawit

Event

Pengunjung