Penggelapan CPO Dijalankan dengan Berbagai Modus (Ketiga)
Kategori : Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global) Posted : Selasa, 20 Desember 2016

borneonews.co.id

20 Desember 2016

 

Penggelapan CPO Dijalankan dengan Berbagai Modus (Ketiga)

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Penggelapan crude palm oil (CPO) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), agaknya telah menjadi suatu rahasia umum di kalangan supir kendaraan pengangkut CPO. Nilai keuntungan yang dapat dikantongi para supir dari jual beli CPO hasil penggelapan di pasar gelap cukup lumayan. Walhasil, aktivitas tersebut cukup marak dan semakin dianggap 'wajar'.

Selain dengan cara 'kencing' dan melansir muatan CPO. Penggelapan CPO oleh supir ini juga dilakukan dengan memanipulasi dokumen muatan CPO di tangki angkut. 

Aksi penggelapan dengan memanipulasi data dokumen replace muatan CPO yang diangkut, dari pabrik kelapa sawit (PKS) ke pelabuhan CPO maupun kepada pihak pembeli itu belakangan terkuak. Lewat adanya laporan resmi PT Sinar Alam Permai (SAP) kepada pihak kepolisian, mengenai dugaan penggelapan sejumlah CPO oleh supir dan para karyawan perusahaannya, Oktober 2016. 

Seorang mantan supir kendaraan angkut CPO, berinisial NK mengungkapkan, dalam proses replace, tiap supir akan diberi sejumlah dokumen resmi oleh pihak PKS. Dokumen itu berisi berbagai data tentang CPO yang diangkut. Sepertii jumlah muatan yang diangkut, nomor register replace dan data informasi detail CPO lainnya. Tak hanya dokumen replace CPO, pada tutup saluran pengeluaran di tangki angkut juga akan diberi segel khusus oleh pihak PKS.  

"Jadi saat dibongkar di tempat tujuan, CPO yang dikeluarkan dari tangki angkut itu harusnya sesuai data informasi yang diberikan oleh PKS. Terus seharusnya segelnya juga tidak rusak. Nah, data CPO itulah yang dipalsukan atau dimanipulasi," kata NK, baru-baru ini. 

Penggelapan dengan memanipulasi dokumen resmi CPO yang diangkut dalam proses replace tersebut tentu saja tidak dapat dijalankan seorang diri oleh para supir. Sehingga aksi ini dijalankan secara terstruktur melibatkan sejumlah karyawan perusahaan. Khususnya yang bertugas di tiap bagian tahapan proses bongkar muatan CPO di lokasi pembongkaran. Konon tiap karyawan, termasuk petugas keamanan, memiliki tugas khusus masing-masing untuk memuluskan pemanipulasian data informasi dokumen CPO. 

"Ya jelas banyak yang terlibat. Seluruh bagian dalam proses itu pasti ada yang terlibat. Dalam sekali bongkar, biasanya ada 10 tangki yang masuk. Kadang yang bongkar hanya sembilan, tapi tetap ditulis 10 tangki yang dibongkar. Terus, segel di saluran pembuangan yang rusak diloloskan. Padahal kalau rusak, berarti isinya sudah ada yang dikeluarkan," jelasnya. 

Aksi penggelapan terstruktur dalam proses pembongkaran ini biasanya dilakukan berdasarkan pesanan pihak penampung CPO gelap tertentu. Untuk menghindari kecurigaan pihak manajemen perusahaan, para karyawan petugas di tiap bagian dalam proses pembongkaran CPO juga dirotasi secara berkala. 

Akibat pemalsuan dokumen CPO yang dijalankan melibatkan sejumlah orang dalam di perusahaan seperti itu, pihak PT SAP mengklaim menderita kerugian lebih dari Rp2 miliar. Kasus dugaan penggelapan dengan modus memanipulasi atau memalsukan dokumen replace CPO PT SAP saat ini tengah ditangani pihak kepolisian. Belakangan, dari 20 lebih karyawan yang diperiksa, empat orang di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan pemalsuan data CPO. (RADEN ARYO/m)

Bagikan

RELATED POST

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Kejutan Astra Agro

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Sempat Disetop, Kasus penggelapan Minyak Sawit Siap Disidangkan

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Tidak Dihadiri Dirut, Dewan Batalkan Hearing dengan Eampat Perusahaan Sawit

Event

Pengunjung