
borneonews.co.id
20 Desember 2016
BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit Malaysia mengalami pelemahan dalam dua sesi terakhir pada perdagangan Senin (19/12), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam empat setengah tahun pada sesi sebelumnya.
Pemicu pelemahan ini, menurut analis komoditas, terjadi setelah pasar berekspektasi data pemerintah Malaysia yang akan dirilis pada Selasa ini (20/12) akan menunjukkan terjadinya penurunan permintaan ekspor.
Harga futures minyak sawit untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, melemah 0,6 persen di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menjadi 3.142 ringgit ($702) per ton pada akhir perdagangan Senin, setelah melaju hingga menyentuh level 3.202 ringgit pada awal perdagangan.
Untuk volume perdagangan tercatat sebanyak 31.018 lot (1 lot mencakup 25 ton).
"Para pelaku pasar memperkirakan terjadinya penurunan ekspor minyak sawit dari Malaysia untuk data yang akan dirilis besok (Selasa)," kata pelaku pasar dari Kuala Lumpur.
Pada awal perdagangan, pasar cukup bergairah seiring dengan menguatnya minyak nabati lainnya dan juga didukung oleh kondisi pasokan di pasar yang ketat. Namun penguatan itu tak berlangsung lama, karena setelah itu pasar memperkirakan data terbaru pemerintah Malaysia akan menunjukkan kinerja ekspor yang menurun.
Minyak sawit mengalami tren menguat dalam beberapa pekan terakhir, yang ditopang oleh melemahnya ringgit terhadap dolar AS dan rendahnya produksi sebagai dampak dari fenomena El Nino. Data pemerintah Malaysia menunjukkan produksi turun 6,1 persen pada November.
Untuk futures minyak kedelai kontrak Januari, BOv1, di CBOT tercatat turun 0,2 persen, sedangkan minyak kedela untuk kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange, DBYcv1, menguat 0,2 persen. Sementara olein dari sawit untuk kontrak Mei di Dalian, DCPcv1, turun 1,2 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)
Sempat Disetop, Kasus penggelapan Minyak Sawit Siap Disidangkan
Kamis, 02 Maret 2017
Tidak Dihadiri Dirut, Dewan Batalkan Hearing dengan Eampat Perusahaan Sawit
Kamis, 02 Maret 2017