Menimbang Arah Saham SGRO

bisnis.com

19 Desember 2016

Oleh: Hafiyyan

Menimbang Arah Saham SGRO

Meningkatnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi sentimen positif bagi kinerja keuangan sekaligus harga saham emiten sawit, termasuk PT Sampoerna Agro Tbk. Meskipun demikian, sejumlah analis cenderung merekomendasikan hold untuk emiten berkode saham SGRO itu.

Pada penutupan perdagangan bursa Malaysia, Jumat (15/12), harga CPO kontrak Maret 2017 terkoreksi 3 poin menuju level 3.158 ringgit per ton. Tren harga di atas 3.100 ringgit merupakan posisi tertinggi sejak pertengahan 2012.

MIDF Amanah Investment Bank Berhad menyampaikan, harga CPO berpeluang meningkat menuju 3.300 ringgit per ton pada paruh pertama 2017, meskipun nantinya terkoreksi ke arah 2.800 ringgit per ton pada akhir tahun depan. Faktor utama yang menopang harga dalam waktu dekat ialah masih terasanya kekurangan pasokan akibat efek El Nino yang berlangsung sejak 2015.

Secara historis, tingkat produksi CPO pada Desember di Malaysia berkurang 11% dari bulan sebelumnya. Sementara itu dari sisi permintaan, China bakal memacu impor untuk memenuhi peningkatan konsumsi menjelang perayaan Imlek yang jatuh pada tanggal 28 Januari 2017.

Sentimen positif harga CPO turut berpengaruh positif pada saham emiten sawit, termasuk SGRO. Pada penutupan perdagangan Jumat (16/12), saham SGRO berada di posisi Rp1.905 atau stagnan sepanjang pekan kemarin, tetapi menunjukkan peningkatan 12,06% sepanjang tahun berjalan.

Analis Daewoo Secutities Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan, pada Juli-September 2016 perseroan membukukan pertumbuhan laba bersih menjadi Rp109,7 miliar dari rugi bersih pada triwulan sebelumnya Rp98,2 miliar. Adapun sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, SGRO membukukan laba bersih kepada entitas induk Rp25,52 miliar, naik dari rugi bersih pada kuartal sebelumnya sebesar Rp84,21 miliar.

Andy menuturkan, perubahan menjadi laba pada laporan keuangan kuartal III bukan berasal dari peningkatan kinerja yang signifikan, tetapi karena adanya manfaat (beban) pajak penghasilan sejumlah Rp190,3 miliar dari triwulan sebelumnya Rp26,9 miliar.

Di sisi lain, kinerja perusahaan juga baru mencapai 12,5% dari target laba bersih sepanjang 2016 dari Daewoo. Oleh karena itu, saham SGRO diberikan rekomendasi hold.

"Selain itu, kami tidak melihat tanda-tanda katalis bagi SGRO dalam jangka pendek, sehingga merekomendasikan hold untuk saham SGRO," ujar Andy saat dihubungi, Minggu (18/12).

Dalam risetnya, Daewoo Securities merevisi target laba bersih perseroan pada 2016 menjadi Rp98,6 miliar dari proyeksi sebelumnya Rp204,9 miliar. Sementara untuk 2017, laba bersih diprediksi sebesar Rp110 miliar dibandingkan dengan estimasi sebelumnya Rp218,1 miliar.

Dari sisi kinerja, produksi CPO SGRO pada triwulan III/2016 tumbuh cukup fantastis, yakni 37,6% menjadi 48.241 ton secara kuartalan (quater on quarter/qoq). Pemicunya ialah panen tandan buah segar atau TBS yang lebih tinggi sejak Agustus.

Pasokan baru TBS per September 2016 mencapai 703.981 ton, naik 51% qoq. Dua faktor yang menopang pertumbuhan produksi ialah dampak El Nino yang perlahan berkurang di perkebunan perseroan dan suplai dari pihak eksternal yang meningkat 102,6% qoq menjadi 92.859 ton.

Melihat produksi TBS yang lebih tinggi dari pihak eksternal, tingkat ekstraksi perseroan turun menjadi 19,3% pada kuartal III, dibandingkan dengan 21,1% pada triwulan sebelumnya. Dengan demikian, Daewoo merevisi tingkat ekstraksi CPO SGRO pada 2016 sebesar 21% dan 2017 sejumlah 21,5%.

Sebelumnya, estimasi awal ekstraksi periode 2016-2017 CPO sebesar 22,1%. Bagaimanapun, produksi TBS dari perkebunan inti masih mendominasi suplai baru perseroan sekitar 65% hingga September 2016.

Andy menyimpulkan, Daewoo mempertahankan rekomendasi hold untuk SGRO juga berdasarkan alasan produksi TBS perseroan yang didominasi oleh perkebunan inti.

FAKTOR UTAMA

Dalam riset berbeda yang rilis bulan ini, analis BCA Sekuritas Nyoman Widita Prabawa memaparkan, tren kenaikan harga CPO akan berlanjut sampai kuartal I/2017 dengan rerata rentang harga 2.900-3.000 ringgit per ton. Ada empat faktor utama yang memengaruhinya.

Pertama, penurunan produksi global setelah El Nino masih akan terasa hingga triwulan pertama tahun depan. Kedua, peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya menjelang perayaan Tahun Baru China yang jatuh pada 28 Januari 2017.

Ketiga, merosotnya mata uang ringgit dan rupiah terhadap dolar AS menaikkan proyeksi ekspor serta peningkatan permintaan. Keempat, peningkatan konsumsi CPO dari Tanah Air.

Senada dengan Andy, Nyoman juga memberikan rekomendasikan hold untuk saham SGRO dengan target harga hingga akhir 2016 di level Rp2.050. Rekomendasi ini berdasarkan pada kondisi perseroan yang masih menghadapi gugatan atas kebakaran hutan.

Pada 12 Agustus 2016, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memenangkan gugatan kasus kebakaran hutan dan lahan terhadap PT National Sago Prima (NSP), anak usaha PT Sampoerna Agro Tbk., sebesar Rp1,07 triliun. Rinciannya, NSP diwajibkan membayar ganti rugi sejumlah Rp319,17 miliar dan biaya pemulihan senilai Rp753 miliar.

KLHK sebagai penggugat menuntut kebakaran hutan dan lahan seluas 3.000 ha di area konsesi NSP di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, yang terjadi pada Januari 2014.

Adapun dari sisi kinerja keuangan, Nyoman memperkirakan SGRO bakal membukukan laba bersih pada 2016 sebesar Rp34 miliar, dan baru meningkat pesat pada 2017 menjadi Rp237 miliar. Pada 2015, perseroan mencatatkan laba bersih senilai Rp247,56 miliar.

Sementara itu, terdapat tujuh analis yang masuk dalam estimasi Bloomberg terhadap saham SGRO dengan target harga Rp2.178. Tiga dari konsensus analis memberikan rekomendasi buy, dan empat lainnya menyatakan hold.

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Bagikan

RELATED POST

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Kejutan Astra Agro

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Sempat Disetop, Kasus penggelapan Minyak Sawit Siap Disidangkan

Informasi Sawit Nasional dan Internasional (Pasar Global)


Tidak Dihadiri Dirut, Dewan Batalkan Hearing dengan Eampat Perusahaan Sawit

Event

Pengunjung