
kompas.com
13 Desember 2016
BOGOR, KOMPAS.com- Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Bayu Krisnamurthi mengatakan, riset sawit di Indonesia belum menjadi kecenderungan arus utama dalam dunia usaha atau mainstream bussines.
Padahal, Indonesia merupakan produsen dan eksportir sawit terbesar di dunia.
Menurut Bayu, salah satu kendalanya adalah belum semua hasil riset tentang sawit bisa digunakan untuk kepentingan industri.
Ia menilai, meskipun banyak pameran riset sawit yang diselenggarakan, namun belum sepenuhnya mempengaruhi bisnis yang ada maupun menghasilkan bisnis baru tentang sawit.
"Saat ini belum sepenuhnya terkait dengan bisnis. Ke depan, riset yang kita biayai akan diarajkan untuk punya tingkat relevansi yang lebih tinggi. Itu untuk mejawab permasalahan dan kebutuhan dari industri," ucap Bayu dalam acara Pekan Riset Sawit Indonesia 2016, di IPB International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Selasa (13/12/2016).
Bayu menambahkan, untuk meningkatkan hasil riset sawit berbasis industri, pihaknya terus meningkatkan jumlah para peneliti sawit, baik dari kalangan profesional maupun dari kalangan mahasiswa.
Pada tahun 2016, lanjut Bayu, BPDP sudah menganggarkan dana sekitar Rp 57 miliar untuk para peneliti sawit. Tahun depan, BPDP menyiapkan sekitar Rp 60 miliaran yang akan dibayarkan.
"Jumlah peneliti yang terkait riset ditingkatkan dulu. Memang masih lebih banyak aspek kuantitas daripada kualitas. Saat ini sudah ada lebih dari 30 lembaga penelitian yang terlibat, lebih dari 250 peneliti, lebih dari 100 judul riset, dan lebih dari 100 mahasiswa," ungkapnya.
Dirinya berharap, tahun 2017-2019, riset sawit harus mengedepankan relevansi, maka diharapkan proposal-proposal yang masuk lebih mampu melibatkan diri dengan pelaku usaha. Bukan hanya terhadap perusahaan, tetapi juga kepada petani, koperasi petani, pemerintah daerah, pemerintah pusat yang memang membutuhkan hasil riset sawit.
"Kita cukup ketat dalam menyelesksi proposal yg masuk karena ingin lebih relevansi terhadap industri. Kita betul-betul memilih tingkat relevansi yang lebih tinggi," kata dia.
Lebih lanjut, pihaknya terus meningkatkan minat penelitian dan menyiapkan peneliti muda sawit, salah satunya dengan menyelenggarakan Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa 2016.
Sejak bulan Maret 2016, kata Bayu, telah dilakukan seleksi dan dipilih 20 penelitian mahasiswa yang terbaik dari 360 usulan yang masuk dari berbagai universitas.
"Cara kami menggenjot minat riset antara lain dengan memfasilitasi mahasiswa, seperti lomba riset mahasiswa. Riset itu harus ditumbuhkan sedini mungkin, makanya kita mulai dari mahasiswa. Pemenang lomba riset ini akan mendapat dana riset untuk bisa mengembangkan hasil risetnya," pungkas dia.
|
Penulis |
: Kontributor Bogor, Ramdhan Triyadi Bempah |
|
Editor |
: Farid Assifa |
Sempat Disetop, Kasus penggelapan Minyak Sawit Siap Disidangkan
Kamis, 02 Maret 2017
Tidak Dihadiri Dirut, Dewan Batalkan Hearing dengan Eampat Perusahaan Sawit
Kamis, 02 Maret 2017