Muncul Gerakan Anti Sawit di Swiss, Wamendag: Mereka Takut Bersaing dengan Indonesia
Kategori : Berita DMSI Posted : Selasa, 19 Januari 2021

(Foto: ilustrasi/Okezone)

 

inews.id

 

19 Januari 2021

 

Oleh: Ferdi Rantung

 

https://www.inews.id/finance/bisnis/muncul-gerakan-anti-sawit-di-swiss-wamendag-mereka-takut-bersaing-dengan-indonesia

 

 

 

Muncul Gerakan Anti Sawit di Swiss, Wamendag: Mereka Takut Bersaing dengan Indonesia

 

 

 

JAKARTA, iNews.id - Uniterre, kelompok LSM muncul di Swiss untuk memelopori referendum penolakan kelapa sawit (CPO). Gerakan tersebut dinilai wujud dari ketakutan atas daya saing industri sawit Indonesia.

 

 

Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga mengajak semua pihak mewaspadai kampanye anti CPO di Swiss karena bisa menjadi preseden buruk bagi kampanye serupa di Uni Eropa.

 

 

Wamendag yang menjadi pimpinan delegasi dalam sidang gugatan diskriminasi CPO di WTO menilai bahwa berbagai kampanye anti sawit dan pelarangan yang terjadi merupakan refleksi persaingan dagang dan tidak berpijak pada fakta yang sebenarnya.

 

 

“Ini refleksi ketakutan mereka terhadap tingginya daya saing kelapa sawit Indonesia. Jika bersaing secara sehat, kelapa sawit Indonesia jauh lebih murah dan lebih kompetitif daripada minyak nabati mereka yang berbahan rapeseed dan sejenisnya," katanya, Selasa (19/1/2021).

 

 

Terkait berbagai tuduhan yang dialamatkan kepada kelapa sawit Indonesia, Wamendag mengajak semua pihak untuk membuktikannya di forum resmi seperti WTO.

“Kita sudah membuktikannya di sidang WTO mereka kesulitan bahkan tidak bisa menjawab ketika kita tanyakan aspek-aspek yang menjadi alasan mereka melarang produk kelapa sawit Indonesia. Ini membuktikan bahwa alasan sebenarnya dari hal ini adalah karena ketakutan untuk bersaing secara terbuka dengan sawit," tuturnya.

 

 

Wamendag menekankan industri kelapa sawit Indonesia terus berproses menuju kondisi yang lebih baik dalam aspek lingkungan, sosiologis dan kesehatan. Indonesia misalnya berkomitmen untuk menjaga lebih dari 50 persen hutannya agar tetap lestari. Angka ini jauh lebih besar daripada komitmen negara-negara Uni Eropa yang saat ini hanya memiliki hutan sebesar belasan persen dari wilayahnya. Sebagian negara bahkan tutupan hutannya tidak sampai 10 persen.

 

 

Wamendag menilai kampanye berbagai LSM di Eropa yang anti kelapa sawit Indonesia dilakukan secara sistematis. Oleh karena itu, Indonesia harus melakukan kontra kampanye agar wacana mengenai kelapa sawit ini berjalan berimbang dan mencerminkan kompetisi wacana yang adil.

 

 

Menurutnya, Indonesia dan negara-negara Uni Eropa selama ini sama-sama mengemukakan wacana perdagangan bebas yang adil dan inklusif. Dia menyayangkan jika kampanye anti kelapa sawit diluncurkan sebagai cerminan dari pelanggaran atas perdagangan terbuka yang adil tersebut.

 

 

Kementerian Perdagangan beserta stake holder di industri CPO sedang mempersiapkan kampanye positif kelapa sawit. Diharapkan Tim Kampanye Positif Kelapa Sawit ini bisa memberikan pandangan dan wawasan yang sebenarnya mengenai kepala sawit kepada masyarakat baik di dalam maupun luar negeri.

 

 

“Industri kelapa sawit itu penting bagi ekonomi Indonesia. Jangan sampai kampanye negatif dan tidak adil mengancam kedaulatan dan kepentingan ekonomi Indonesia. Kita harus berjuang demi kesejahteraan rakyat secara keseluruhan," ucapnya.

 

Editor: Rahmat Fiansyah

 

 

 

 

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung