Resolusi Sawit Uni Eropa Dorong Kerusakan Lingkungan Global
Kategori : Berita DMSI Posted : Rabu, 10 Januari 2018

Ilustrasi

infosawit.com

10 Januari 2018

http://www.infosawit.com/news/7576/resolusi-sawit-uni-eropa-dorong-kerusakan-lingkungan-global

Resolusi Sawit Uni Eropa Dorong Kerusakan Lingkungan Global

InfoSAWIT, JAKARTA - Dalam artikel berjudul “Membangun Masa Depan Berkelanjutan: Minyak Kelapa Sawit Malaysian Dan Konsumsi Eropa” yang ditulis secara bersama oleh Frank Vogelgesang, Uttaya Kumar, Kalyana Sundram dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC), mencatat penerbitan resolusi minyak sawit oleh parlemen Uni Eropa  bakal memiliki konsekuensi luas bagi ekonomi Malaysia (dan negara-negara penghasil minyak kelapa sawit lainnya).

Pnerapan resolusi juga semestinya harus didasarkan pada bukti objektif dan bukan penerapan prinsip kehati-hatian tanpa batas, yang bertentangan dengan  Article 191 of the Treaty on the Functioning of the European Union.

Oleh karena itu, pihak Malaysia dalam artikel yang didapat InfoSAWIT dari Journal Oil Palm, Environment and Health, belum lama ini, menyampaikan pandangannya mengenai dua tujuan utama Resolusi tersebut.

Misalnya terkait sertifikasi berkelanjutan, dalam artikel mencatat penekanan bahwa kenyataan tentang produksi dan perdagangan kelapa sawit di lapangan terlalu rumit untuk dicakup oleh skema sertifikasi tunggal yang dicanangkan Eropa.

“Dalam pandangan kami, standar sertifikasi harus ditetapkan dan diberlakukan di tingkat nasional. Itulah sebabnya kami memilih untuk berinvestasi dalam membangun standar Malaysia Sustainable Palm Oil (MSPO). Di sisi lain, kita melihat kekhawatiran Parlemen Eropa mengenai transparansi dan kejelasan standar sertifikasi yang berbeda terhadap konsumen. Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk mencari cara untuk membuat standar yang sebanding,” catat penulis.

Lantas mengenai Biodiesel, dimana perdebatan mengenai implikasi dari apa yang disebut " Globiom Report " yang menerapkan konsep perubahan penggunaan lahan tidak langsung (ILUC) terhadap perhitungan emisi gas rumah kaca (GRK), dimana penghitungan keseluruhan biodiesel sawit telah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada kesudahan. Pihak penulis mencatat penghapusan penggunaan biodiesel sawit sebenarnya merupakan pelanggaran terhadap prinsip kehati-hatian.

Mengingat kendaraan bermotor masih akan lebih banyak menggunakan minyak berbasis fosil, setidaknya untuk selama 15 sampai 20 tahun, dampak lingkungan dari bahan bakar fosil versus biodiesel sawit harus dieksplorasi lebih lanjut.

Harus diingat bahwa keseluruhan jejak gas rumah kaca dari bahan bakar fosil harus mempertimbangkan semua kegiatan seperti eksplorasi dan produksi petroleum tradisional serta produksi minyak dan gas bumi (yang terutama digunakan untuk minyak tanah dan solar).

Evaluasi lengkap faktor-faktor ini (apalagi minyak sawit tidak dapat disangkal memiliki potensi tingkat penyerapan karbon yang tidak sepele) didapat kesimpulan bahwa upaya perbaikan dengan meninggalkan biodiesel dianggap sebagai cara yang lebih buruk daripada tetap pada pilihan untuk menggunakan minyak fosil.

Pihak penulis punmengungkapkan keprhatinannya, bahwa Parlemen dan Komisi Uni Eropa telah disesatkan oleh asumsi palsu guna mengejar jalan menuju tujuan-tujuan yang mengarah ke tempat lain, atau menuju hasil yang akan meninggalkan konsumen dan negara produsen serta lingkungan global semakin buruk.

“Untuk menghindari hasil seperti itu, kami ingin sekali membawa pengalaman seabad ini, dan keahlian yang luas dalam segala hal menghasilkan minyak sawit hingga ke meja. Dengan  bekerja sama akan membuat solusi menjadi lebih baik bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat, termasuk untuk kebaikan ekosistem bumi,” catat penulis. (T2)

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung