Ketua Dewan Pers: Pandangan Miring tentang Bisnis Sawit Harus Dibantah
Kategori : Berita DMSI Posted : Rabu, 06 Desember 2017

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo yang akrab disapa dengan nama Stanley berbicara dengan judul "Industri Sawit dan Pemberitaan Sawit" dalam pelatihan jurnalistik di Palembang, Rabu (6/12/2017) sore.

medanbisnisdaily.com

6 Desember 2017

http://www.medanbisnisdaily.com/news/online/read/2017/12/06/16243/ketua_dewan_pers_pandangan_miring_tentang_bisnis_sawit_harus_dibantah/

 

Ketua Dewan Pers: Pandangan Miring tentang Bisnis Sawit Harus Dibantah

Medanbisnisdaily.com - Palembang. Sampai saat ini pandangan dan pemberitaan miring terhadap industri sawit terus berlangsung, tetmasuk dituding sebagai pembakar hutan. Jika memang tidak benar, seharusnya pandangan miring tentang bisnis sawit di Indonesia harus dibantah.

"Jurnalisme lingkungan sering hanya memandang perkebunan sawit dari sisi yang buruk. LSM, termasuk LSM lingkungan juga sering menuding perkebunan sawit, terutama melalui kegiatan konferensi pers atau laporan tahunan, tanpatanpa bertanya terlebih dahulu kepada yang expert (pakar di bidang perkebunan sawit -red)," ujar Ketua Dewan Pers Yosep "Stanley" Adi Prasetya, Rabu (6/12/2017) sore.

Stanley mengatakan hal itu saat berbicara sebagai pembicara dalam pelatihan jurnalistik bertajuk "Sustainable Palm Oil Master Class II" yang diadakan Forum Media Sawit Lestari (FORMASI) dan Sinar Mas Agribusiness and Food di All Nite & Day Hotel Palembang, Sumatera Selatan.

Di hadapan puluhan jurnalis dari berbagai provinsi di pulau Sumatera, Stanley yang membawakan makalah berjudul "Industri Sawit dan Pemberitaan Pers" mengatakan, dalam menulis berita soal sawit, media harus.jeli dan kritis apakah ada hal-hal tertentu di balik serangan terhadap sawit. "Apakah ini terkait perang dagang, atau ada apa di balik semua itu," ucap Stanley.

Kata Stanley, tidak banyak pihak yang belum mengupas NGO-NGO yang menyerang sawit. Ternyata, ucap Stanley, NGO-NGO di Indonesia mendapatkan dana dari NGO asing, dan NGO asing memeroleh dana dari industri-industri besar di negara mereka. "Bantuan industri besar ke NGO di Eropa dan Amerika dilaporkan ke partai politik setempat sebagai laporan bantuan CSR (Corporate Social Responcibility)," ucap Stanley.

 

Ia lalu mencontohkan serangan terhadap rokok kretek Indonesia. "Saya bukan perokok, tapi saya melihat dampak dari kampanye antirokok, ternyata ada kepentingan industri besar dan berskala internasional," papar Stanley.

 

Namun Stanley juga mengkritik sikap tertutup perusahaan perkebunan saat berada dalam tekanan. Seharusnya, saran Stanley, perusahaan perkebunan menyediakan humas yang mumpuni yang mampu bersikap terbuka dan menjelaskan dengan terang tentang fakta yang sebenarnya.

Menanggapi pertanyaan MedanBisnis terkait resolusi sawit yang dikeluarkan parlemen Eropa yang diikuti dengan saran agar menggunakan minyak nabati nonsawit, Stanley mengkritik ketidakrapiam koordinasi antarkementerian di pemerintahan saat ini.

 

Ia menyarankan agar pemerintah menyediakan desk khusus yang mampu memasok informasi yang utuh soal sawit Indonesia untuk dipaparkan secara terbuka kepada media. "Desk itu tidak harus permanen keberadaannya, namun desk itu mampu menyediakan informasi utuh kepada tiga kementeriN koordinator dan kementerian di bawah koordinasnya," tegas Stanley.

 

Reporter: Hendrik Hutabarat

Editor: Rahmita Harja

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung