KOMODITAS PERKEBUNAN CPO Mendekati Level Bawah
Kategori : Berita DMSI Posted : Senin, 02 April 2018

Bisnis Indonesia

2 April 2018

 

KOMODITAS PERKEBUNAN

CPO Mendekati Level Bawah

 

JAKARTA - Harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil berjangka di bursa Malaysia Deriatives Exchange mengalami penurunan tiga sesi pada akhir pekan lalu, mengikuti pelemahan komoditas minyak terkait di Chicago Board of Trade dan China's Dalian Commodity Exchange.

 

Harga COP kontrak pengiriman Juni 2018 di Bursa MDEX turun 0,6% menjadi 2.404 ringgit (US$621,83) per ton pada penutupan (29/3) setelah dalam perdagangan tersebut sempat menyentuh 2.399 ringgit, terendah sejak 13 Maret.

 

Sepanjang Maret, harga telah melemah hingga 6,1%. Sementara secara tahunan (ytd), harga menurun hampir 4%. Para analis memperkirakan harga CPO akan berlanjut mengalami penurunan dalam beberapa bulan ke depan.

 

"CPO kemungkinan akan turun ke level bawah menjadi 2.150 ringgit per ton dalam tiga bulan [ke depan]," kata Wang Tao, analis pasar di Reuters untuk teknikal komoditas dan energi.

 

Harga CPO berpotensi jatuh lebih jauh pada tahun ini yang diperkirakan akibat produksi yang akan meningkat setelah fenomena cuaca kering El Nino. Selain itu, pohon sawit muda yang mulai siap panen dan lebih produktif.

 

Produktif tandan buah sawit pada Maret dan April diperkirakan tinggi. Ekspektasi produksi yang lebih tinggi pada dua bulan tersebut selanjutnya berpotensi menekan harga CPO. Pasalnya, output minyak nabati biasanya meningkat secara musiman sekitar kuartal kedua sebelum memuncak pada kuartal ketiga.

 

Catatan sebelumnya, menurut Malaysia Palm Oil Council, produksi CPO Malaysia pada periode Februari telah meningkat 6,7% year-on-year (yoy) menjadi 1,34 juta ton seiring dengan perbaikan setelah efek el nino di 2016.

 

Akumulasi dua bulan pertama di Tahun Anjing Tanah ini menunjukkan kenaikan produksi mencapai 15,5% yoy menjadi 2,93 juta ton. Diperkirakan, produksi CPO Malaysia akan terus naik pada 2018 dan bisa mencapai angka di atas 20 juta ton untuk pertama kalinya.

 

 

HARGA TURUN

Harga CPO telah tersungkur setelah diumumkannya penangguhan pajak ekspor Malaysia yang akan berlaku lagi pada 7 April 2018. Pemerintah Malaysia melalui surat edarannya akan kembali menetapkan pajak ekspor CPO sebesar 5% pada April ini setelah melakukan penangguhan selama tiga bulan pertama di tahun ini.

 

"Dalam jangka pendek, ini [penetapan pajak ekspor CPO Malaysia] bisa mendorong pembeli untuk membeli lebih banyak menjelang kembalinya pajak," kata David Ng, spesialis perdagangan derivatif di Philip Futures.

 

"Namun dalam jangka menengah, kami melihat permintaan yang lebih lambat karena pembelian beralih ke Indonesia," tambahnya.

 

David Ng menuturkan, pembeli utama seperti India dan China adalah pasar yang sensitif terhadap harga dan cenderung menyukai minyak sawit Indonesia karena harganya biasanya lebih rendah setelah memperhitungkan pajak ekspor Malaysia.

 

Selain itu, harga CPO mengalami pelemahan didorong juga oleh posisi ringgit yang sempat menguat akhir-akhir ini. Ringgit, mata uang perdagangan sawit tercatat turun tipis 0,1% menjadi 3.8660 per dolar pada Kamis (29/3) malam, setelah naik ke level tertinggi dalam hampir dua tahun di sesi sebelumnya.

 

Kekuatan pada ringgit biasanya menekan harga CPO dengan membuat kontrak lebih mahal bagi pemegang mata uang asing, serta sebaliknya. Sementara itu, harga minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai mengalami penurunan juga.

 

 

 

(Eva Rianti/Reuters)

Bagikan

RELATED POST

Event

Pengunjung